MENU

Belajar Memperoleh Ilmu yang Benar dan Bertabayyun di Supercamp

Belajar Memperoleh Ilmu yang Benar dan Bertabayyun di Supercamp

bintangcendekia.sch.id | PEKANBARU — Satu per satu murid level tiga SD Islam dan Leadership Bintang Cendekia tiba di gerbang sekolah dengan semangat. Mereka diantar orang tua, dengan menyandang tas, menjinjing matras, dan peralatan kemah lainnya untuk mengikuti kegiatan Leadership Activity (LA) tahunan Supercamp, Jumat, 21 November 2025. 

Di lapangan outbond belakang gedung sekolah, para guru panitia dan musyrif telah siap menyambut. Barisan tenda dome warna oranye berkapasitas empat hingga enam orang telah didirikan. Lampu penerangan malam terpasang membentang di atas lapangan. Kayu bakar ditumpuk di tengah area lapangan untuk keperluan api unggun.

Usai menata barang bawaan, peserta berkumpul untuk mengikuti acara pembukaan yang secara resmi dibuka Kepala SD Islam dan Leadership Bintang Cendekia, Muhammad Iqbal, M.Psi.

Dalam sambutannya, bapak Iqbal menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai kepemimpinan dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ia mengajak para murid untuk mencontoh sosok Khalifah Harun Al-Rasyid, pemimpin yang dikenal sangat mencintai ilmu dan kebenaran.

“Mencari kebenaran, kebenaran dari Al-Quran, kebenaran dari hadis, kebenaran dari buku, artinya apa anak-anak semuanya? Ketika anak-anak ingin tahu dan ingin mencari apa itu kebenaran yang sesungguhnya, kita harus punya ilmu,” ujar bapak Iqbal.

Bapak Iqbal mengisahkan momen perubahan dalam hidup Harun Al-Rasyid, yang awalnya seorang khalifah yang biasa menyuruh-nyuruh, menjadi pribadi yang sangat menghormati ilmu. Suatu waktu Harun Al-Rasyid pergi haji dan ingin bertemu dengan Imam Malik. Alih-alih memerintahkan sang ulama untuk datang, justru Harun Al-Rasyid lah yang mendatangi Imam Malik sebagai bentuk penghormatannya pada pemilik ilmu.

“Ilmu itu harus dihormati. Karena Harun Al-Rasyid adalah seorang murid. Harun Al-Rasyid-lah yang harus datang menemui Imam Malik. Itu artinya adalah mencintai ilmu,” kata bapak Iqbal.

Menurut bapak Iqbal, kisah ini memberi pesan agar para murid menghormati guru-guru mereka sebagaimana Harun Al-Rasyid menghormati Imam Malik. Menurutnya kebenaran yang disampaikan oleh guru-guru itu adalah ilmu yang ada di dalam Al-Quran dan hadisnya Rasulullah.

Sementara itu, Ketua Panitia Supercamp, bapak Jon Hendri Satria, SE., menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Keteladanan Harun Al-Rasyid dalam Menyikapi Kebenaran (Bertabayyun). Menurutnya, alasan tema ini dipilih adalah untuk menumbuhkan kecintaan murid-murid kepada Khalifah Harun Al-Rasyid, dengan kepercayaan diri yang tinggi dan bangga terhadap Islam sebagai agamanya.

“Tabayun artinya meneliti dan mencari kebenaran suatu berita. Allah memerintahkan umat Islam untuk bertabayun, jika ananda mendapat berita dari kawan-kawan yang belum jelas, jangan langsung dipercaya, tapi ditelusuri kebenarannya,” jelas bapak Hendri.

Setelah pembukaan, rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai permainan, penampilan pentas seni kreatif dari tiap kelompok, shalat jamaah fardu dan qiyamullail, mendengar kisah keteladanan Harun Al-Rasyid, dan ditutup dengan api unggun sebelum beristirahat di tenda masing-masing. 

Hari kedua, Sabtu, 22 November, peserta mengikuti rangkaian kegiatan hiking yang menantang di kawasan hutan sekitar hutan Stadion Utama Riau.

Selain menanamkan nilai kebanaran atau tabayun, kegiatan selama dua hari ini juga dirancang untuk melatih kemandirian, lifeskill, dan kerja sama para murid. ***

 

Penulis: Abdul Hamid

KOMENTAR