MENU

Mencapai Kebahagiaan yang Otentik Bagi Seorang Guru

Mencapai Kebahagiaan yang Otentik Bagi Seorang Guru

bintangcendekia.sch.id | PEKANBARU - Kebahagiaan adalah satu nikmat yang selalu dikejar setiap orang. Setiap orang memiliki standar dan konsep kebahagiaan tersendiri. Orang yang mengenal dirinya akan mampu menciptakan kebahagiaan sendiri.

Sebagai seorang muslim, tentu memiliki standar nikmat kebahagiaan otentik yang sangat berbeda dengan konsep yang dibuat oleh tokoh psikologi barat seperti Martin Seligman dan Aristoteles. Bagi seorang muslim, konsep nikmat kebahagiaan dapat merujuk pada apa yang dirumuskan oleh Imam al-Gozali. 

Dalam buku riyadhu ash-shalihin secara runut dan terstruktur Imam al-Gozali telah menyusun hal itu. Menurutnya ada lima macam nikmat menuju kebahagian. Nikmat kebahagiaan akhirat, keutamaan jiwa, keutamaan badan, eksternal dan keutamaan taufik.

Hal ini disampaikan ibu Dr. dr. Susiana Tabrani, M.Pd dalam sesi lokakarya Sekolah Islam Bintang Cendekia, Sabtu, 23 Desember 2023 yang bertempat di Mesjid Bintang Cendekia. Kegiatan yang diikuti seluruh guru dan karyawan Sekolah Bintang Cendekia ini mengambil tema pendidikantTaqwa sebagai lentera jiwa para muaddib.

Ibu Susi menjelaskan bahwa ibadah yang tiap kali kita kerjakan itu, apakah masih sekadar mengejar pahala, atau merupakan bentuk syukur dari diri kita. Menurutnya salah satu bukti seseorang bahagia itu adalah fardu ainnya rapi dan terlaksana dengan baik.

“Minimal ibadah mahdoh itu harus ada, karena diri itu adalah kota yang harus selalu dijaga. Maka ibadah-ibadah yang disyariatkan Allah itu adalah media untuk menjaga dan memperbaiki diri,” jelas ibu Susi.

Lebih lanjut dikatakan untuk memperoleh kebahagiaan, mengenal diri itu sangat penting. Mengenal diri berguna bagi guru agar profesi tidak menjadi masalah saat menjalaninya. Menurutnya salah satu kunci untuk menemukan kebahagiaan adalah mengaudit diri. Hal ini dapat dilakukan oleh seseorang jika dia telah mengenal dirinya.

“Mengenal diri juga termasuk mengenal kelemahan dan kekurangan diri, lakukanlah muhasabah, dan buatlah mutaba’ah. Buat catatan agar bisa melakukan scanning diri dari apa yang telah dituliskan oleh ulama-ulama seperti yang tertulis dalam buku Riyadhusshalihin,” kata ibu Susi.

Selain mengenal diri, dikatakan yang paling penting dikuatkan lagi dari para guru Bintang Cendekia adalah ma’rifatulloh. Menurut ibu Susi hal ini dapat dikuatkan dengan mempelajari siroh. Disampaikan juga agar para guru memahami bahwa kebagaiaan bukanlah ikut yang dibuat dengan standar dunia, tapi mesti mengikuti standar Islam.***

 

Narasi: Abdul Hamid

KOMENTAR